Poundsterling bertahan di sekitar US$1,347, level terkuat sejak pertengahan September, setelah Bank of England (BoE) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4%. Kenaikan ini menjadi yang pertama dalam lebih dari tiga tahun dan memperkuat daya tarik pound.
Keputusan tersebut diambil dengan hasil voting 8-1, dengan Catherine Mann menjadi satu-satunya anggota yang menginginkan kenaikan lebih besar sebesar 50 basis poin. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar pembuat kebijakan masih melihat perlunya pengetatan moneter untuk menghadapi tekanan inflasi.
Gubernur BoE Andrew Bailey juga membuka peluang kenaikan suku bunga berikutnya jika konflik Iran belum terselesaikan. Konflik tersebut menjadi salah satu sumber tekanan harga energi yang dapat membuat inflasi Inggris tetap tinggi.
Pasar kemudian meningkatkan ekspektasi terhadap pengetatan moneter lanjutan. Saat ini, investor bahkan telah memperhitungkan tiga kenaikan suku bunga tambahan hingga November 2027, mencerminkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi belum akan segera mereda.
BoE memperingatkan inflasi dapat mencapai 4,9% pada kuartal II 2027. Dalam skenario yang lebih buruk jika konflik Iran kembali meningkat, inflasi bahkan berpotensi mencapai 6,2% pada kuartal III 2027.
Di sisi lain, penguatan pound juga terbantu oleh pelemahan dolar AS. Greenback turun ke level terendah dalam satu bulan setelah kemenangan besar Demokrat dalam pemilu paruh waktu AS meningkatkan ekspektasi terhadap kebuntuan politik dan membatasi ruang kebijakan pemerintahan Trump.
Analisis Newsmaker: pound mendapatkan dukungan dari kombinasi BoE yang lebih hawkish dan pelemahan dolar AS. Namun, tingginya proyeksi inflasi membuat arah kebijakan BoE tetap menjadi perhatian utama. Jika tekanan harga terus meningkat, peluang kenaikan suku bunga lanjutan dapat menjaga momentum pound, meski risiko terhadap pertumbuhan ekonomi Inggris tetap perlu diperhatikan. (arl)
Sumber : Newsmaker.id