Harga emas kembali menguat pada perdagangan Jumat (16/10), didukung pelemahan dolar AS dan penurunan yield Treasury. Spot gold naik 0,4% ke sekitar US$4.187,66 per troy ounce, sementara kontrak futures emas menguat 0,9% ke US$4.208,50. Indeks Dolar AS (DXY) turun 0,3% ke 101,78 dan berada di jalur penurunan mingguan pertama dalam lima pekan, sehingga membuat emas relatif lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain.
Pergerakan emas juga dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan emas karena meningkatkan opportunity cost dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil. Pasar kini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober, sementara peluang kenaikan berikutnya lebih banyak diarahkan ke pertemuan Desember.
Ketidakpastian semakin meningkat setelah Ketua The Fed Kevin Warsh kembali tidak memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga. Dalam pernyataannya, Warsh menegaskan bahwa dirinya tidak ingin mendahului keputusan setiap pertemuan. Sikap tersebut membuat pasar harus lebih bergantung pada data ekonomi berikutnya untuk memperkirakan langkah The Fed.
Warsh sebelumnya juga menyoroti tekanan inflasi yang masih menjadi tantangan bagi bank sentral. Data terbaru menunjukkan inflasi AS masih berada di atas target The Fed sebesar 2%, sehingga risiko kenaikan suku bunga tambahan belum sepenuhnya hilang. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang dapat membatasi penguatan emas apabila dolar dan yield kembali meningkat.
Di sisi lain, pelemahan dolar memberikan katalis positif bagi emas dalam jangka pendek. Jika yield Treasury terus turun dan ekspektasi kenaikan suku bunga semakin mundur, emas berpotensi mendapatkan dukungan tambahan. Namun, pasar tetap perlu mewaspadai perubahan ekspektasi karena data inflasi yang kembali panas dapat dengan cepat menghidupkan kembali tekanan terhadap logam mulia.