Harga emas dunia bertahan di atas level US$3.955 per troy ounce pada perdagangan Selasa (3/11/2026), setelah mencatat kenaikan harian terbesar dalam dua bulan terakhir. Emas spot menguat 0,2% menjadi US$3.954,52 per troy ounce, melanjutkan lonjakan 1,9% pada perdagangan sebelumnya. Penguatan ini didorong meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang membuat harga minyak dunia turun tajam.
Optimisme pasar muncul setelah pemerintah Iran menyatakan telah memperoleh kewenangan lebih besar untuk melanjutkan negosiasi, sementara Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal adanya kemajuan pembicaraan. Harapan meredanya konflik tersebut membuat harga minyak anjlok lebih dari 7% pada Senin. Penurunan harga energi memberikan kelegaan bagi pasar karena berpotensi mengurangi tekanan inflasi global sekaligus meredakan kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga bank sentral.
Selama sembilan bulan konflik Timur Tengah berlangsung, lonjakan harga energi telah mendorong inflasi dan meningkatkan tekanan terhadap bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil berupa bunga. Sepanjang Oktober, harga emas bahkan merosot 6,8%, menembus ke bawah US$4.000 dan menyentuh level terendah dalam setahun. Tekanan semakin besar setelah aksi jual saham teknologi terkait kecerdasan buatan (AI) mendorong sebagian investor melepas emas untuk menutupi kerugian pada aset lainnya.
Meski mulai pulih, pergerakan emas masih menghadapi ketidakpastian dari pasar saham global dan perkembangan politik AS. Pelemahan saham teknologi Asia yang mengikuti aksi jual produsen chip di Wall Street berpotensi kembali memicu kebutuhan likuiditas investor. Selain itu, pasar tengah menantikan hasil pemilu sela AS pada Selasa yang dapat memengaruhi pergerakan emas pada perdagangan Rabu. Sementara itu, indeks dolar Bloomberg cenderung stabil setelah melemah 0,3% dalam dua sesi sebelumnya, memberikan sedikit dukungan bagi logam mulia.
Newsmaker mencatat, lonjakan emas menunjukkan bahwa meredanya kekhawatiran inflasi mulai memberikan ruang pemulihan setelah tekanan jual sepanjang Oktober. Namun, kenaikan ini belum sepenuhnya memastikan perubahan tren menjadi bullish karena risiko kebijakan suku bunga dan tekanan pasar saham masih membayangi. Jika harga minyak terus melemah dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mereda, emas berpeluang kembali menguji level psikologis US$4.000. Sebaliknya, meningkatnya ketidakpastian pasar dapat membuat pemulihan emas kembali tertahan.