Solid Gold Berjangka - Harga minyak menguat pada perdagangan Rabu di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Kontrak Brent untuk pengiriman Desember naik 0,61% menjadi US$106,33 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November menguat 0,63% menjadi US$94,73 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi ketika pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran terus meningkat. Ketegangan semakin tajam setelah serangan mematikan terhadap bandara utama Riyadh yang dikaitkan dengan kelompok Houthi di Yaman, sehingga memperbesar kekhawatiran pasar terhadap keamanan infrastruktur strategis dan jalur pasokan energi kawasan.
Di sisi lain, terminal energi dan cadangan bahan bakar Houthi di Yaman dilaporkan menjadi sasaran serangan koalisi yang dipimpin Arab Saudi. Koalisi menyatakan telah mengambil langkah pencegahan untuk meminimalkan dampak terhadap warga sipil. Eskalasi serangan tersebut menambah premi risiko geopolitik yang mulai kembali tercermin pada harga minyak.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran juga tetap tinggi, terutama terkait Selat Hormuz. Komando Pusat AS membantah klaim komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran yang menyatakan bahwa Iran menguasai jalur strategis tersebut dan mengancam kapal perang AS yang mendekat. Perselisihan itu memperkuat kekhawatiran pasar terhadap keamanan salah satu jalur pengiriman minyak terpenting dunia.
Potensi kenaikan harga minyak juga mendapat perhatian dari pelaku pasar komoditas. Manajer hedge fund Paul Tudor Jones memperkirakan harga minyak masih memiliki ruang kenaikan sekitar US$20 hingga US$25 apabila konflik dengan Iran terus berlanjut. Ia juga menyatakan masih mengambil posisi beli terhadap minyak karena menilai risiko geopolitik belum menunjukkan tanda mereda.
Pasar kini terus memantau perkembangan konflik Saudi-Houthi, ketegangan AS-Iran, serta kondisi Selat Hormuz. Selama risiko gangguan pasokan tetap tinggi, harga minyak berpotensi mempertahankan tren kuat, meskipun arah selanjutnya tetap bergantung pada apakah tensi geopolitik meningkat atau justru mulai mereda. (srh)