Yen Jepang kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Asia, Rabu (4/11/2026), setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam hampir tiga pekan. Pasangan USD/JPY melemah sekitar 0,20% dan bergerak di bawah level 158,50, menghentikan penguatan selama dua hari berturut-turut. Pemulihan yen terjadi seiring melemahnya dolar AS dan meningkatnya kewaspadaan investor terhadap kemungkinan intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.
Kekhawatiran terhadap langkah intervensi kembali meningkat setelah Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menegaskan kesiapan pemerintah untuk mengambil tindakan apabila pelemahan yen berlangsung secara berlebihan atau tidak terkendali. Katayama juga menyatakan bahwa kesepahaman antara Jepang dan AS mengenai kebijakan nilai tukar masih berlaku. Pernyataan tersebut mendorong sebagian pelaku pasar menutup posisi jual terhadap yen, sehingga memberikan dukungan terhadap penguatan mata uang Jepang.
Di sisi lain, dolar AS menghadapi tekanan akibat penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta meningkatnya harapan penyelesaian konflik melalui diplomasi antara Washington dan Teheran. Meredanya kekhawatiran geopolitik berpotensi mengurangi tekanan inflasi akibat tingginya harga energi. Kondisi ini turut memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), yang selama ini menjadi salah satu faktor utama pendukung kekuatan dolar.
Perhatian pasar juga tertuju pada hasil pemilu sela AS yang berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan global. Ketidakpastian mengenai komposisi Kongres dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan fiskal, pertumbuhan ekonomi, dan pergerakan imbal hasil obligasi AS. Bagi yen, perubahan selisih suku bunga antara Jepang dan AS menjadi faktor penting karena dapat menentukan daya tarik mata uang kedua negara. Penurunan imbal hasil obligasi AS berpotensi mengurangi tekanan terhadap yen, meskipun perbedaan kebijakan moneter kedua negara masih menjadi tantangan bagi penguatan jangka panjang.