Gelombang demonstrasi melanda sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat pada Oktober 2026, mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah. Di Eropa, aksi protes berlangsung di Prancis, Italia, Belgia, Spanyol, hingga Portugal, dengan tuntutan yang berfokus pada tingginya biaya hidup, rendahnya upah, mahalnya perumahan, serta kualitas layanan publik. Sementara itu, Amerika Serikat turut menghadapi demonstrasi besar menjelang pemilu sela pada 3 November mendatang. Meski aksi di AS lebih banyak didorong persoalan politik dan kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump, tekanan biaya hidup tetap menjadi salah satu keresahan ekonomi masyarakat.
Persoalan utama yang menghubungkan kondisi kedua kawasan tersebut adalah melemahnya daya beli akibat kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak sepenuhnya diimbangi pertumbuhan pendapatan. Di Uni Eropa, harga makanan dan minuman nonalkohol tercatat meningkat sekitar 34% sepanjang Agustus 2021 hingga Agustus 2026. Kondisi ini memperlihatkan bahwa perlambatan inflasi belum tentu membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih terjangkau, karena harga barang dan jasa tetap berada pada level yang relatif tinggi. Kenaikan biaya perumahan, energi, transportasi, serta kebutuhan sehari-hari semakin mempersempit ruang belanja rumah tangga, terutama bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Tekanan ekonomi tersebut semakin diperburuk oleh ketidakpastian geopolitik global, khususnya konflik Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi barang, sehingga menimbulkan risiko inflasi berkepanjangan. Situasi ini menghadirkan dilema bagi bank sentral, termasuk Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa, dalam menentukan arah kebijakan moneter. Mempertahankan suku bunga tinggi berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan beban pinjaman masyarakat, sementara pelonggaran kebijakan terlalu cepat dapat memperbesar risiko kenaikan inflasi kembali.
Meluasnya demonstrasi di negara-negara maju menjadi peringatan bahwa stabilitas ekonomi tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan produk domestik bruto, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup. Apabila tekanan harga terus berlangsung, konsumsi rumah tangga berpotensi melemah dan menghambat pertumbuhan ekonomi global. Investor diperkirakan akan semakin mencermati perkembangan inflasi, pasar tenaga kerja, serta arah kebijakan suku bunga menjelang akhir tahun. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar saham, mata uang, dan komoditas, terutama apabila ketidakpuasan masyarakat berkembang menjadi ketidakstabilan politik yang lebih luas.
- Inflasi meningkat: The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Dolar cenderung didukung, sedangkan emas bisa tertekan.
- Inflasi melambat: The Fed punya ruang lebih besar untuk menurunkan suku bunga. Dolar bisa melemah dan emas berpeluang menguat.
- Inflasi tinggi, ekonomi melemah: Ini yang lebih rumit, karena muncul risiko stagflasi ( kondisi makroekonomi ketika pertumbuhan ekonomi melambat atau stagnan, angka pengangguran tinggi, dan inflasi (kenaikan harga barang terjadi secara bersamaan ).
Emas bisa mendapatkan permintaan sebagai aset aman, tetapi suku bunga tinggi juga bisa menekannya.
Jadi kesimpulannya : meningkatnya biaya hidup akibat kenaikan harga barang secara luas memang berkaitan dengan inflasi. Tetapi masyarakat tetap bisa merasakan biaya hidup yang berat meskipun tingkat inflasi sudah turun.(CP)