Harga minyak mentah Brent mengalami tekanan pada perdagangan Senin (19/10), setelah mencatat penguatan tajam pada akhir pekan sebelumnya. Brent crude futures turun sekitar 1,77% ke level US$107,92 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah ke kisaran US$100,58 per barel. Koreksi tersebut terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan melonggarkan sejumlah sanksi dan tarif terhadap ekspor energi Rusia, yang membuka peluang peningkatan pasokan bahan bakar ke pasar internasional. Keputusan tersebut meredakan sebagian kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan minyak global, sekaligus mendorong aksi ambil untung setelah Brent sebelumnya mencapai level penutupan tertinggi sejak Mei.
Pelonggaran pembatasan terhadap Rusia menjadi perhatian utama investor karena berpotensi meningkatkan ketersediaan produk energi, terutama diesel, di pasar global. Washington membuka kemungkinan peningkatan ekspor diesel Rusia secara bertahap, meskipun implementasi kebijakan tersebut masih membutuhkan evaluasi lebih lanjut. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pemerintah memiliki waktu hingga 60 hari untuk menilai dampak ekonomi dari perubahan kebijakan tersebut. Namun, tekanan penurunan harga minyak masih dibatasi oleh ketidakpastian geopolitik, terutama konflik Timur Tengah yang terus mengancam kelancaran distribusi energi melalui Selat Hormuz dan kawasan Laut Merah.
Dari sisi fundamental, pasar minyak dunia masih menghadapi tarik-menarik antara potensi peningkatan pasokan Rusia dan risiko gangguan pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia. Ancaman terhadap kapal tanker di Selat Hormuz serta meningkatnya aktivitas kelompok Houthi di sekitar jalur perdagangan Laut Merah membuat premi risiko geopolitik tetap tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan harga minyak rentan mengalami perubahan tajam apabila muncul serangan baru terhadap infrastruktur energi maupun kapal pengangkut minyak. Secara teknikal, Brent menghadapi resistance terdekat di kisaran US$109–US$110 per barel, sementara support awal berada di sekitar US$107 dan US$105. Penembusan di bawah area support berpotensi memperpanjang koreksi, sedangkan kembalinya harga di atas US$110 dapat memperkuat momentum kenaikan.
Dari sisi pasar keuangan global, pelemahan harga minyak berpotensi membantu meredakan tekanan inflasi Amerika Serikat, sehingga mengurangi kebutuhan Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter yang terlalu ketat. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap dolar AS apabila ekspektasi suku bunga dan imbal hasil obligasi AS ikut menurun.
Sementara itu, emas berpeluang memperoleh dukungan dari pelemahan dolar dan meredanya ekspektasi inflasi, meskipun berkurangnya kekhawatiran geopolitik dapat membatasi permintaan safe haven. Sebaliknya, apabila konflik Timur Tengah kembali mendorong lonjakan harga minyak, risiko inflasi dapat meningkat dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Oleh karena itu, arah pergerakan Brent, dolar AS, dan emas akan sangat bergantung pada perkembangan pasokan Rusia, keamanan Selat Hormuz, serta prospek kebijakan moneter Federal Reserve.(CP)