Harga emas dunia masih berada di bawah tekanan pada perdagangan sesi Eropa Kamis (29/10), dengan XAU/USD bergerak di sekitar US$4.030 per troy ounce dan berada dekat area terendah hariannya. Penguatan kembali dolar AS setelah koreksi pasca-FOMC menjadi salah satu faktor utama yang membebani logam mulia.
Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4,00% melalui keputusan 10-2. Namun, dua pejabat The Fed, Lisa Cook dan Beth Hammack, memilih kenaikan sebesar 25 basis poin. Ketua The Fed Kevin Warsh juga menegaskan bahwa bank sentral masih mewaspadai tekanan inflasi dan risiko geopolitik, menjaga peluang pengetatan lanjutan tetap terbuka.
Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 80% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Desember. Ekspektasi tersebut kembali meningkatkan permintaan terhadap dolar AS dan memberikan tekanan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil, terutama di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi dapat menjaga inflasi tetap tinggi.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memberikan dukungan terhadap dolar sebagai aset safe haven. Pasar masih mencermati kemungkinan operasi militer AS terhadap Iran setelah pemilu sela 3 November, meski upaya diplomasi melalui mediator regional terus dilakukan. Di saat yang sama, konflik antara kelompok Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi masih meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi.
Dalam jangka pendek, tekanan terhadap emas masih cenderung dominan selama dolar dan ekspektasi kenaikan suku bunga tetap kuat. Namun, investor diperkirakan menahan posisi agresif menjelang rilis data GDP AS kuartal III dan indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), yang akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan The Fed dan pergerakan XAU/USD selanjutnya. (srh)