Harga emas dunia masih mengalami tekanan pada perdagangan Rabu (28/10/2026) waktu New York, setelah Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya tanpa memberikan petunjuk tegas mengenai kemungkinan kenaikan pada Desember.
Emas spot melemah 0,6% menjadi US$4.034,18 per troy ounce pada pukul 14.22 waktu New York, setelah sebelumnya bergerak di sekitar US$4.030. Keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4,00% sesuai dengan ekspektasi pasar, tetapi belum mampu memberikan dorongan penguatan bagi logam mulia. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) relatif stabil setelah pengumuman tersebut, sementara indeks dolar AS versi Bloomberg bergerak sedikit menguat.
Keputusan The Fed diambil melalui pemungutan suara dengan hasil 10 anggota mendukung dan dua anggota menolak. Gubernur The Fed Lisa Cook dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, mencerminkan masih adanya dorongan pengetatan moneter di dalam bank sentral.
Dalam pernyataan resminya, FOMC menegaskan komitmen untuk mengendalikan inflasi menuju target 2%, tetapi menyatakan bahwa perkembangan data ekonomi berikutnya akan menjadi dasar penentuan kebijakan. Sikap tersebut membuat investor belum memperoleh kepastian mengenai arah suku bunga pada Desember. Di tengah tekanan harga energi dan inflasi yang masih tinggi, kemungkinan pengetatan kebijakan lanjutan tetap menjadi faktor yang membatasi daya tarik emas sebagai aset yang tidak menghasilkan bunga.
Pelemahan emas juga diikuti penurunan harga logam mulia lainnya. Perak merosot 1,6% menjadi US$53,54 per troy ounce, sementara platinum dan paladium turut bergerak melemah. Pelaku pasar kini mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh serta perkembangan indikator ekonomi Amerika Serikat untuk menilai peluang perubahan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Meskipun keputusan mempertahankan suku bunga secara teori dapat mengurangi tekanan terhadap emas, penekanan The Fed pada stabilitas harga dan keberadaan dua anggota yang menginginkan kenaikan menunjukkan bahwa risiko kebijakan moneter ketat masih cukup kuat. Kondisi tersebut membuat emas berpotensi tetap bergerak fluktuatif hingga pasar memperoleh kejelasan mengenai prospek inflasi dan arah kebijakan suku bunga AS