Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (27/10/2026), memperpanjang penurunan untuk hari kedua setelah muncul perkembangan positif dalam upaya diplomasi untuk meredakan konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran. Minyak Brent untuk pengiriman Desember turun 0,6% menjadi US$115,15 per barel pada pukul 08.12 waktu Singapura, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,5% ke level US$101,28 per barel. Koreksi ini membawa minyak semakin menjauh dari posisi tertinggi enam bulan terakhir, seiring meningkatnya harapan bahwa konflik Timur Tengah tidak akan berkembang menjadi perang yang lebih luas.
Harapan tersebut muncul setelah sejumlah pejabat tinggi Arab Saudi, Pakistan, dan Turki mengunjungi Teheran pada Senin untuk membahas kemungkinan penyelesaian konflik. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan pembicaraan, sementara Iran dikabarkan menunjukkan fleksibilitas terhadap usulan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat pembatasan Amerika Serikat dicabut dalam tujuh hari. Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin juga dijadwalkan bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dalam pertemuan energi di Moskow. Perkembangan ini memberikan harapan baru bagi pemulihan stabilitas pasokan minyak global.
Meski demikian, risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda. Koalisi pimpinan Arab Saudi melaporkan telah menghancurkan tiga drone di Riyadh setelah bentrokan dengan kelompok Houthi yang didukung Iran. Sementara itu, ketegangan di Lebanon kembali meningkat di tengah laporan bahwa Hezbollah sedang mempersiapkan kemungkinan konflik regional baru. Walaupun pengiriman minyak dari Timur Tengah telah pulih mendekati tingkat sebelum perang, biaya pengangkutan masih tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar tetap memperhitungkan risiko gangguan pasokan sewaktu-waktu, terutama pada jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz.
Dari sisi pasar, kontrak minyak Brent masih menunjukkan kondisi backwardation, yaitu ketika harga kontrak pengiriman terdekat lebih tinggi dibandingkan kontrak berikutnya. Selisih harga kedua kontrak terdekat mencapai sekitar US$5 per barel pada Senin, meningkat dari US$3,69 sepekan sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan jangka pendek masih kuat, meskipun harga minyak sedang mengalami koreksi. Investor juga mencermati pemilu Israel pada Selasa, keputusan suku bunga Federal Reserve pada Rabu, serta pemilu paruh waktu AS pada 3 November yang berpotensi memengaruhi perkembangan konflik dan sentimen pasar energi.
Pandangan kedepannya, pergerakan harga minyak diperkirakan tetap berfluktuasi karena pasar menghadapi dua sentimen yang saling berlawanan. Kemajuan diplomasi dan pulihnya aliran minyak dapat membuka ruang koreksi lebih lanjut, sedangkan serangan baru terhadap fasilitas energi atau kegagalan perundingan berpotensi kembali mendorong harga naik. Meskipun Brent mulai menjauh dari puncaknya, harga yang masih bertahan di atas US$115 menunjukkan bahwa risiko pasokan belum hilang. Pasar kini menunggu apakah upaya diplomasi benar-benar menghasilkan kesepakatan atau hanya menjadi jeda sementara sebelum ketegangan kembali meningkat.