Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan Kamis (5/11/2026), setelah mengalami penurunan tajam lebih dari 8% pada sesi sebelumnya. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar US$88,29 per barel, sementara Brent sebelumnya anjlok 8,7% dan ditutup pada US$94,62 per barel. Penurunan tersebut menjadi salah satu koreksi terbesar dalam beberapa bulan terakhir, dipicu meningkatnya harapan bahwa kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat (AS) dapat mempercepat penyelesaian konflik dengan Iran yang telah berlangsung selama sembilan bulan.
Kemenangan Partai Demokrat yang berhasil menguasai Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat menjadi faktor utama perubahan sentimen pasar energi. Hasil tersebut memberikan pengaruh politik lebih besar kepada Demokrat dalam menentukan anggaran pemerintah, termasuk pendanaan operasi militer AS. Pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, menyatakan komitmennya untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance mengakui bahwa ketidakpuasan masyarakat terhadap perang dan hubungan AS-Israel turut menjadi faktor yang memengaruhi kekalahan Partai Republik. Kondisi ini meningkatkan ekspektasi bahwa tekanan politik terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump dapat mempercepat upaya diplomasi.
Harapan meredanya konflik semakin kuat setelah Trump menyatakan bahwa Washington tidak memiliki rencana segera untuk meningkatkan serangan terhadap Iran. Pernyataan tersebut mengurangi kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, ekspor minyak mentah dari negara-negara Teluk Persia mulai kembali meningkat, sehingga menambah ketersediaan pasokan di pasar global. Pemulihan distribusi minyak tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap harga, terutama setelah Brent sempat mencapai level tertinggi dalam enam bulan pada Oktober akibat ancaman eskalasi konflik.
Meski harga minyak mentah mengalami penurunan tajam, pasar produk energi olahan masih menghadapi keterbatasan pasokan. Gangguan distribusi dari Timur Tengah serta meningkatnya serangan Ukraina terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia telah mendorong kenaikan harga bensin dan diesel. Di Amerika Serikat, persediaan bahan bakar distilat, termasuk diesel, turun hingga di bawah 100 juta barel atau mencapai level terendah sejak 2003. Persediaan minyak mentah nasional juga mengalami penurunan selama lima pekan berturut-turut. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasokan energi belum sepenuhnya mereda meskipun harga minyak mentah terus melemah.
Solidnews mencatat, penurunan tajam harga minyak mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap masa depan konflik AS-Iran setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela. Berkurangnya peluang eskalasi militer serta meningkatnya ekspor minyak dari Timur Tengah berpotensi mempertahankan tekanan terhadap harga dalam jangka pendek. Namun, rendahnya persediaan bahan bakar dan risiko gangguan pasokan global masih dapat membatasi penurunan lebih lanjut. Jika diplomasi AS-Iran menghasilkan kemajuan nyata, harga minyak berpeluang melanjutkan pelemahan sekaligus membantu meredakan tekanan inflasi. Sebaliknya, kegagalan perundingan atau meningkatnya ketegangan militer dapat kembali memicu volatilitas dan mendorong pemulihan harga minyak dunia.