Bank of England (BoE) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,00% pada hari Kamis (5/11), dengan hasil voting 8-1. Keputusan tersebut diambil untuk mengantisipasi tekanan inflasi yang masih tinggi, terutama akibat kenaikan biaya energi dan bahan bakar.
BoE memperkirakan inflasi Inggris dapat mencapai 4,9% pada kuartal II 2027, jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 3,2%. Dalam skenario konflik Iran kembali meningkat, inflasi bahkan berpotensi mencapai 6,2% pada kuartal III 2027.
Gubernur BoE Andrew Bailey mengatakan kenaikan kali ini tidak berarti bank sentral akan memulai rangkaian kenaikan suku bunga panjang. Namun, ia membuka peluang kenaikan berikutnya apabila konflik Timur Tengah belum terselesaikan dan tekanan harga energi terus berlanjut.
Tekanan inflasi juga semakin terasa bagi rumah tangga Inggris. Tagihan energi diperkirakan meningkat 25% pada Januari, sehingga menimbulkan risiko kenaikan biaya tersebut merembet ke upah dan harga barang serta jasa lainnya.
BoE menilai perekonomian Inggris ternyata lebih tangguh dari perkiraan sebelumnya. Bank sentral menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 1,6% dari 1,1%, sementara proyeksi 2027 dinaikkan menjadi 1,3%. Namun, proyeksi pertumbuhan 2028 dipangkas menjadi 1,2% karena dampak kenaikan harga energi diperkirakan masih terasa.
Dalam skenario konflik Iran kembali meningkat, tekanan inflasi dapat semakin parah. Sebaliknya, jika permintaan ekonomi melemah, BoE memperkirakan inflasi dapat turun hingga 1,2%, yang membuka kemungkinan perlunya penurunan suku bunga.
Analisis Newsmaker: keputusan BoE menunjukkan bahwa bank sentral kini harus menyeimbangkan risiko inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Inflasi yang kembali meningkat dapat membuka ruang kenaikan suku bunga lanjutan dan menopang poundsterling, tetapi kebijakan yang terlalu ketat berisiko menekan aktivitas ekonomi Inggris. (arl)
Sumber : Newsmaker.id