Federal Reserve (The Fed) menghadapi tantangan kebijakan moneter yang semakin kompleks menjelang rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat pada Jumat malam pukul 20.30 WIB, bersamaan dengan kembali meningkatnya harga minyak dunia. Laporan ketenagakerjaan AS diperkirakan menunjukkan penambahan 65 ribu pekerjaan pada Oktober, lebih tinggi dibandingkan 29 ribu pada September, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan pada 4,2%. Apabila realisasi NFP melampaui perkiraan, kondisi tersebut dapat memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja AS masih cukup tangguh sehingga mengurangi kebutuhan The Fed untuk segera melonggarkan kebijakan moneternya.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Minyak mentah Brent menguat 1,31% menjadi US$99,58 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 0,95% menjadi US$91,38 per barel pada perdagangan Jumat. Penguatan tersebut dipicu kekhawatiran gangguan pasokan akibat serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk dan meningkatnya ketidakpastian keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz. Apabila kenaikan harga energi berlangsung berkepanjangan, biaya transportasi dan produksi berpotensi meningkat serta mendorong harga barang dan jasa, sehingga menyulitkan upaya The Fed mengembalikan inflasi menuju target 2%.
Kombinasi pasar tenaga kerja yang tetap kuat dan kenaikan harga energi berpotensi menempatkan The Fed dalam situasi sulit. Jika NFP melampaui ekspektasi sekaligus pertumbuhan upah meningkat, bank sentral AS dapat memiliki alasan lebih kuat untuk mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan mempertimbangkan pengetatan tambahan apabila tekanan inflasi kembali memburuk. Sebaliknya, apabila kenaikan harga minyak mulai melemahkan aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat, The Fed harus menghadapi risiko perlambatan pertumbuhan di tengah inflasi yang masih tinggi. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran stagflasi, yaitu kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melemah sementara tekanan harga tetap tinggi, sehingga ruang kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.
Bagi pasar keuangan, hasil NFP yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi mendukung dolar AS melalui meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan lanjutan terhadap emas karena logam mulia tidak menawarkan pendapatan bunga. Namun, meningkatnya ketegangan geopolitik dan risiko inflasi akibat kenaikan minyak juga berpotensi mendorong permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Dengan demikian, pergerakan dolar dan emas pada perdagangan malam ini akan sangat bergantung pada hasil NFP, tingkat pengangguran, pertumbuhan upah, serta respons pasar terhadap prospek kebijakan The Fed.(CP)