Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (19/10/2026), mendekati level US$4.190 per troy ounce setelah mengalami tekanan pada pekan sebelumnya. Emas spot tercatat naik 0,5% menjadi US$4.178,55 per troy ounce pada saat berita ini dibuat. Penguatan ini dipicu oleh berkurangnya kekhawatiran investor terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Amerika Serikat pada Oktober, menyusul pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, yang dinilai memberikan ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga dalam pertemuan pekan depan.
Pernyataan Warsh membuat pelaku pasar menurunkan perkiraan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi kurang dari 17%. Sebelumnya, data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan sempat mendorong ekspektasi kenaikan bunga dan memperkuat dolar AS. Namun, sikap Warsh yang tidak memberikan sinyal pengetatan kebijakan dalam waktu dekat berhasil meredakan tekanan tersebut. Kondisi ini menjadi sentimen positif bagi emas, karena suku bunga yang lebih tinggi biasanya membuat aset berbunga seperti obligasi lebih menarik dibandingkan logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Dukungan terhadap emas juga datang dari pelemahan saham-saham teknologi Amerika Serikat, menyusul meningkatnya kekhawatiran investor terhadap besarnya investasi di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Tekanan pada saham teknologi mendorong sebagian investor mencari alternatif investasi yang dianggap lebih aman. Pada saat yang sama, meningkatnya permintaan obligasi pemerintah AS membuat harga obligasi naik dan imbal hasilnya turun. Penurunan imbal hasil tersebut ikut mengurangi tekanan terhadap emas, sementara pelemahan tipis dolar AS memberikan tambahan ruang bagi harga logam mulia untuk bergerak lebih tinggi.
Dari sisi permintaan investasi, emas masih mendapatkan dukungan cukup kuat meskipun mengalami penurunan tajam sejak awal konflik Amerika Serikat dan Iran pada akhir Februari. Harga emas tercatat masih sekitar 20% lebih rendah dibandingkan periode sebelum konflik, tetapi berhasil bertahan di atas level psikologis US$4.000 per troy ounce sejak Agustus. Minat investor terhadap emas juga terlihat dari meningkatnya kepemilikan dana investasi berbasis emas atau exchange-traded fund (ETF) selama 13 pekan berturut-turut. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian investor masih menjadikan emas sebagai pilihan untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Ke depan, pergerakan emas berpeluang melanjutkan pemulihan apabila dolar AS dan imbal hasil obligasi tetap melemah, serta The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober. Secara psikologis, area US$4.190 hingga US$4.200 menjadi kawasan yang perlu diperhatikan untuk mengukur kekuatan kenaikan berikutnya. Namun, risiko koreksi masih terbuka karena investor tetap memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Dengan sentimen pasar yang mulai membaik, pertanyaan besarnya kini adalah apakah emas mampu menembus US$4.200 atau kembali tertahan oleh kekhawatiran inflasi Amerika Serikat.