Solid Gold Berjangka - Harga emas dunia masih berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu (21/10/2026), di tengah ketidakpastian perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran yang membuat arah inflasi serta kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) semakin sulit diprediksi. Harga emas spot turun 0,2% menjadi US$4.118, 83 per troy ounce pada pukul 08.08 waktu Singapura. Investor masih berhati-hati karena munculnya sinyal yang berbeda mengenai peluang perdamaian di Timur Tengah, sementara tingginya harga energi terus membayangi prospek ekonomi global.
Sejak konflik Amerika Serikat dan Iran pecah pada akhir Februari, harga emas telah kehilangan sekitar 20% nilainya. Kondisi ini terjadi ketika perang mendorong kenaikan harga energi dan memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat. Meskipun emas dikenal sebagai aset aman ketika ketegangan geopolitik meningkat, tingginya inflasi justru dapat mendorong The Fed mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Kebijakan tersebut menjadi tantangan bagi emas karena investor berpotensi lebih memilih obligasi yang memberikan imbal hasil dibandingkan logam mulia yang tidak menghasilkan bunga.
Di sisi lain, pasar obligasi Amerika Serikat mulai menunjukkan perubahan setelah harga minyak mengalami penurunan dan sejumlah indikator ekonomi memperlihatkan tanda-tanda pelemahan. Data terbaru menunjukkan pembangunan rumah baru di AS pada September menurun, sementara penjualan rumah tertunda berada pada level terendah sepanjang pencatatan. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dan mendorong permintaan obligasi pemerintah AS berjangka panjang. Jika imbal hasil obligasi terus melemah, tekanan terhadap harga emas berpotensi berkurang.
Namun, ketidakpastian kebijakan The Fed masih menjadi perhatian utama investor menjelang pertemuan pada 27–28 Oktober. Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya tidak memberikan petunjuk pasti mengenai keputusan suku bunga, tetapi pasar memperkirakan peluang kenaikan sebesar 25 basis poin pada Oktober berada di bawah 17%. Meski demikian, peluang kenaikan bunga pada pertemuan berikutnya sebelum akhir tahun masih diperkirakan sekitar 85%, mengingat inflasi AS tetap berada jauh di atas target 2%. Perbedaan ekspektasi tersebut membuat pergerakan emas rentan terhadap perubahan sentimen pasar.
Ke depan, arah harga emas akan sangat bergantung pada perkembangan diplomasi Iran, pergerakan harga minyak, serta kondisi ekonomi Amerika Serikat. Secara teknikal, kawasan US$4.100 menjadi support psikologis yang perlu diperhatikan, sementara US$4.150 menjadi resistance awal apabila harga mencoba kembali menguat. Jika ketegangan geopolitik mereda dan harga minyak turun, kekhawatiran inflasi berpotensi berkurang sehingga mendukung pemulihan emas. Namun, apabila tekanan inflasi tetap tinggi dan The Fed kembali memberikan sinyal kenaikan bunga, emas berisiko melanjutkan pelemahan. Pertanyaan utama kini adalah apakah US$4.100 mampu menjadi titik balik harga emas atau justru menjadi batas sebelum koreksi yang lebih dalam.(asd)