Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Rabu (21/10/2026), memperpanjang tren penurunan selama empat hari berturut-turut di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi global.
Harga emas spot (XAU/USD) turun 0,1% menjadi US$4.121,27 per troy ounce pada pukul 16.10 WIB, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 15 Oktober. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember melemah 0,1% menjadi US$4.139,50 per troy ounce. Pelemahan ini terjadi ketika investor semakin berhati-hati menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve pekan depan, sementara lonjakan harga minyak dunia kembali memperbesar tekanan terhadap prospek inflasi Amerika Serikat.
Kenaikan harga minyak Brent yang bertahan di atas US$110 per barel menjadi salah satu faktor utama yang membebani emas. Ketegangan geopolitik Timur Tengah, termasuk ancaman terhadap jalur pelayaran Selat Hormuz dan fasilitas energi Arab Saudi, meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak global. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar biaya energi dan mempertahankan tekanan inflasi lebih lama. Kepala Analis Pasar Bybit, Han Tan, menilai emas masih berada dalam tren penurunan yang berlangsung sejak dua bulan terakhir akibat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed. Meskipun emas dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, tingginya suku bunga membuat logam mulia kurang menarik dibandingkan aset yang memberikan imbal hasil.
Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026. Mayoritas ekonom dalam survei Reuters memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan tersebut, sebelum kembali menaikkannya pada Desember. Pasar bahkan memperhitungkan probabilitas kenaikan suku bunga Desember sekitar 90%, dengan potensi kenaikan sebesar 25 basis poin. Ekspektasi pengetatan moneter tersebut terus membatasi ruang penguatan emas karena tingginya biaya pinjaman meningkatkan daya tarik instrumen berbunga. Selain itu, investor juga menantikan data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pekan depan untuk memperoleh petunjuk mengenai arah inflasi dan kebijakan moneter berikutnya.
Tekanan jual turut melanda logam mulia lainnya, dengan harga perak turun 1,3% menjadi US$57,25 per ounce, platinum melemah 1,1% ke US$1.630,11, dan paladium merosot 2% menjadi US$1.080,92 per ounce. Pelemahan serentak tersebut menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek pasar logam mulia di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ke depan, pergerakan emas diperkirakan masih sensitif terhadap perubahan harga minyak, dolar AS, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS. Jika tekanan inflasi tetap tinggi dan The Fed mempertahankan sinyal kebijakan moneter ketat, emas berpotensi kembali menguji area psikologis US$4.100 per troy ounce.
Point of View Solidnews
Pelemahan emas selama empat hari berturut-turut memperlihatkan bahwa pasar saat ini lebih mengkhawatirkan dampak inflasi terhadap kebijakan The Fed dibandingkan memanfaatkan emas sebagai aset safe haven. Konflik Timur Tengah memang meningkatkan ketidakpastian global, tetapi lonjakan harga minyak justru memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi yang membatasi daya tarik emas.
Dari sisi teknikal, area US$4.100 menjadi support psikologis penting. Jika level tersebut ditembus secara konsisten, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju US$4.050 hingga US$4.000. Sebaliknya, apabila emas mampu kembali menguat melewati US$4.150, peluang pemulihan menuju US$4.200 dapat terbuka. Level tersebut merupakan skenario analisis, bukan kepastian target harga.
Kesimpulan: Emas masih berada dalam tekanan bearish jangka pendek. Namun, keputusan The Fed pada 27–28 Oktober dan data inflasi PCE dapat menjadi katalis perubahan arah pasar. Jika ekspektasi kenaikan suku bunga mulai mereda, emas berpeluang mengalami rebound. Sebaliknya, sinyal hawkish The Fed dapat memperpanjang tekanan terhadap XAU/USD.