Indeks Hang Seng Hong Kong bergerak terbatas pada perdagangan Jumat (23/10/2026) sesi Asia, setelah mengalami tekanan jual tajam pada sesi sebelumnya. Indeks acuan bursa Hong Kong sempat menguat sekitar 0,1% dalam perdagangan pagi, menyusul kejatuhan 3,03% pada Kamis yang membawa indeks ditutup pada level 22.934,68. Meski muncul upaya pemulihan, sentimen investor masih dibayangi kekhawatiran terhadap prospek sektor teknologi global, tingginya kebutuhan pendanaan investasi kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi internasional. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dalam mengambil posisi pada aset berisiko.
Tekanan terhadap pasar saham Hong Kong terutama berasal dari pelemahan saham teknologi dan perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan industri AI. Kekhawatiran mengenai besarnya belanja modal, kebutuhan pembiayaan, serta kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari investasi AI memicu aksi jual di sejumlah pasar saham global. Pelemahan Wall Street pada perdagangan sebelumnya turut memperburuk sentimen di kawasan Asia. Investor semakin mempertanyakan keberlanjutan pertumbuhan perusahaan teknologi setelah meningkatnya pengeluaran untuk pembangunan pusat data dan infrastruktur komputasi, sehingga memicu peralihan dana menuju instrumen yang dinilai lebih aman.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah Brent ke kisaran US$114 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah turut menambah kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi. Harga energi yang tinggi berpotensi meningkatkan biaya produksi, transportasi, serta distribusi barang, sehingga memperbesar tekanan inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Situasi ini menjadi tantangan bagi perekonomian Tiongkok yang masih berupaya memperkuat konsumsi domestik dan aktivitas industrinya. Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global semakin membebani prospek perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa Hong Kong, terutama sektor industri, konsumsi, dan teknologi.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, kinerja perusahaan teknologi, serta arah kebijakan moneter Federal Reserve Amerika Serikat menjelang pertemuan pada 27–28 Oktober. Meningkatnya kekhawatiran terhadap keberlanjutan investasi AI telah mendorong permintaan obligasi pemerintah AS, sementara penurunan imbal hasil obligasi mencerminkan perubahan ekspektasi investor terhadap kebijakan suku bunga. Apabila tekanan terhadap saham teknologi terus berlanjut dan harga energi bertahan tinggi, indeks Hang Seng berisiko menghadapi volatilitas lebih besar. Namun, meredanya ketegangan geopolitik dan membaiknya sentimen pasar global berpotensi membuka peluang pemulihan bursa Hong Kong.(CP)