Indeks Hang Seng Hong Kong berhasil mengakhiri perdagangan Jumat (23/10/2026) di zona positif, setelah mengalami tekanan jual tajam pada sesi sebelumnya. Indeks utama bursa Hong Kong ditutup menguat 158,69 poin atau 0,69% ke level 23.093,37. Pemulihan tersebut didukung aksi beli pada sejumlah saham teknologi, kendaraan listrik, dan industri, meskipun sentimen pasar Asia masih dibayangi kekhawatiran terhadap tingginya biaya investasi kecerdasan buatan (AI). Penguatan ini sekaligus membawa Hang Seng kembali bertahan di atas level psikologis 23.000 poin setelah sebelumnya merosot akibat aksi jual saham global.
Kenaikan indeks turut didorong oleh pemulihan saham-saham unggulan, terutama BYD yang melonjak 6,2%, CATL menguat 5,4%, serta Sunny Optical Technology yang naik 5%. Saham China Aluminum dan China Hongqiao juga mencatatkan penguatan masing-masing 7% dan 5,5%. Sejalan dengan membaiknya sentimen, Hang Seng Tech Index naik sekitar 2%, menunjukkan adanya minat beli terhadap sebagian saham teknologi setelah mengalami koreksi. Namun, penguatan pasar belum berlangsung merata karena saham Lenovo masih melemah 2,2%, sementara sejumlah saham perbankan turut mengalami tekanan.
Meskipun Hang Seng berhasil menguat, pelaku pasar masih mencermati perkembangan Wall Street setelah kekhawatiran terhadap besarnya belanja modal perusahaan AI memicu aksi jual pada saham teknologi Amerika Serikat. Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan Timur Tengah berpotensi memperbesar tekanan inflasi global dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Investor juga menantikan perkembangan ekonomi China serta laporan keuangan perusahaan untuk menilai keberlanjutan pemulihan bursa Hong Kong. Dengan kondisi tersebut, penguatan Hang Seng pada akhir pekan memberikan sinyal pemulihan jangka pendek, tetapi belum sepenuhnya menghilangkan risiko volatilitas pasar global.
Kesimpulan
Penguatan Hang Seng menunjukkan adanya aksi beli setelah koreksi tajam, terutama pada saham kendaraan listrik dan teknologi. Namun, pemulihan ini masih perlu dikonfirmasi oleh penguatan yang berkelanjutan, mengingat tekanan dari pasar saham AS, kenaikan harga minyak, dan ketidakpastian kebijakan The Fed belum sepenuhnya mereda.