Amerika Serikat menggelar pemilu paruh waktu atau Midterm Elections pada Selasa (3/11/2026), yang menjadi perhatian utama pelaku pasar keuangan global. Pemilu ini memperebutkan seluruh 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) dan 35 kursi Senat. Hasil pemungutan suara akan menentukan komposisi kekuasaan di Kongres sekaligus memengaruhi kemampuan Presiden Donald Trump dalam menjalankan agenda ekonomi dan politik selama dua tahun terakhir masa jabatannya.
Persaingan antara Partai Republik dan Partai Demokrat menjadi sorotan karena berpotensi mengubah arah kebijakan fiskal Amerika Serikat. Apabila Partai Republik berhasil mempertahankan kendali atas kedua kamar Kongres, pemerintahan Trump berpeluang memiliki ruang lebih besar untuk melanjutkan kebijakan pemotongan pajak, deregulasi, dan belanja pemerintah. Sebaliknya, apabila Partai Demokrat menguasai salah satu atau kedua kamar Kongres, sejumlah agenda ekonomi Trump berpotensi menghadapi hambatan legislasi yang lebih besar.
Bagi pasar keuangan, hasil pemilu tidak hanya berkaitan dengan perubahan kekuasaan politik, tetapi juga prospek pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Kebijakan fiskal yang lebih ekspansif berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus memperbesar tekanan inflasi dan kebutuhan pembiayaan pemerintah. Sementara itu, Kongres yang terbagi antara kedua partai dapat membatasi pengesahan kebijakan fiskal baru, sehingga investor perlu menilai dampaknya terhadap imbal hasil obligasi pemerintah AS dan ekspektasi suku bunga.
Dolar AS berpotensi mengalami volatilitas ketika hasil pemilu mulai diumumkan, terutama jika komposisi Kongres berbeda dari ekspektasi pasar. Kemenangan Republik yang membuka peluang ekspansi fiskal dapat mendukung dolar apabila mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan ekspektasi suku bunga. Sebaliknya, penguatan posisi Demokrat yang membatasi agenda fiskal Trump dapat menekan dolar apabila imbal hasil obligasi turun. Meski demikian, arah pergerakan mata uang AS tetap akan dipengaruhi perkembangan inflasi, kondisi tenaga kerja, kebijakan The Fed, serta sentimen risiko global.(CP)