Solid Gold Berjangka – Harga minyak dunia bergerak melemah setelah pasar mencermati munculnya kembali upaya diplomasi untuk mencegah eskalasi baru antara Amerika Serikat dan Iran. Brent diperdagangkan di sekitar US$114,58 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$103,48 per barel setelah sebelumnya mencatat kenaikan tajam.
Tekanan terhadap harga muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Teheran masih memberikan ruang bagi jalur diplomasi. Di saat yang sama, Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan telah melakukan komunikasi dengan Mohsen Rezaei, pejabat senior keamanan Iran, sehingga memunculkan harapan bahwa kedua pihak masih membuka peluang dialog.
Presiden AS Donald Trump juga mengatakan pembicaraan dengan Iran tengah berlangsung melalui mediator, meski belum ada kepastian mengenai hasilnya. Munculnya komunikasi antara pejabat senior kedua negara mendorong sebagian pelaku pasar melakukan aksi ambil untung sekaligus mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak.
Meski terkoreksi, Brent masih mencatat kenaikan sekitar 11% sepanjang bulan ini dan sempat menyentuh level tertinggi sejak April. Konflik yang berkepanjangan telah menjaga harga energi tetap tinggi, meningkatkan tekanan terhadap konsumen, serta menjadi tantangan bagi bank sentral dalam mengendalikan inflasi. The Fed pekan ini mempertahankan suku bunga, tetapi pasar masih memperkirakan peluang pengetatan kembali pada Desember.
Dari sisi pasokan, ekspor minyak Arab Saudi masih bertahan dekat level tertinggi selama periode konflik meskipun infrastruktur energi dan jalur tanker di Selat Hormuz menghadapi ancaman serangan. Sementara itu, persediaan minyak mentah AS turun 1,9 juta barel pada pekan lalu ke level terendah sejak Juli, sedangkan ekspor minyak AS mencapai laju terkuat sejak Mei.
Pasar selanjutnya akan mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran, pemilu sela AS pada 3 November, serta proses pembentukan pemerintahan Israel. Selain itu, laporan keuangan perusahaan energi besar seperti Shell, TotalEnergies, ExxonMobil, dan Chevron juga akan menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran baru mengenai kondisi permintaan, pasokan, dan prospek harga minyak global. (srh)