Harga minyak turun lebih dari 1% pada Selasa setelah upaya diplomatik sejumlah negara Timur Tengah meredakan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan. Brent Desember turun 1,7% ke US$113,82 per barel, sementara WTI melemah 2% ke US$99,78 per barel.
Pelemahan terjadi setelah harga Brent sebelumnya melonjak ke level tertinggi lebih dari lima bulan akibat meningkatnya kekhawatiran pasokan, terutama karena konflik antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, serta meningkatnya serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Upaya diplomatik menjadi perhatian utama pasar setelah Iran menggelar pertemuan dengan Pakistan, Arab Saudi, dan Turki untuk membahas keamanan serta stabilitas kawasan. Pertemuan tersebut dihadiri Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir, dan kepala intelijen Turki.
Selain itu, pejabat Qatar juga terus melakukan komunikasi dengan Teheran dalam upaya mencegah konflik meluas. Perkembangan tersebut membantu meredakan sebagian kekhawatiran terhadap eskalasi militer AS-Iran dalam jangka pendek.
Namun, investor masih berhati-hati karena belum ada kepastian bahwa upaya diplomatik tersebut akan menghasilkan perdamaian yang berkelanjutan. Presiden AS Donald Trump masih membuka kemungkinan serangan militer lanjutan terhadap Iran, sementara Teheran mensyaratkan penghentian blokade AS dan pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran sebelum negosiasi dapat dilanjutkan.
Dengan demikian, arah harga minyak masih sangat bergantung pada perkembangan diplomasi dan konflik di Timur Tengah. Jika proses diplomasi menghasilkan deeskalasi nyata, premi risiko geopolitik berpotensi semakin berkurang dan menekan harga minyak. Sebaliknya, eskalasi baru atau gangguan terhadap jalur pelayaran dapat kembali meningkatkan kekhawatiran pasokan dan mendorong harga Brent naik.(yds)