Solid Gold Berjangka - Pasangan USD/JPY bertahan di sekitar 158,37 pada perdagangan Asia Selasa (20/10), dengan yen masih berada di bawah tekanan terhadap dolar AS. Investor memilih menunggu data inflasi Jepang yang akan dirilis Jumat, sementara kenaikan yield obligasi Treasury AS memberikan dukungan tambahan bagi dolar.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menepis anggapan bahwa kebijakannya menjadi penyebab pelemahan yen dan tingginya suku bunga. Ia menegaskan pemerintah akan memperkuat kepercayaan terhadap mata uang domestik melalui pembangunan ekonomi yang lebih kuat serta mengendalikan penerbitan obligasi pemerintah dalam anggaran tahun fiskal berikutnya.
Dari sisi moneter, Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda mengatakan inflasi dasar Jepang kini semakin mendekati target 2%. Ia juga memperingatkan bahwa yield obligasi jangka panjang dapat terus naik jika pasar menilai BoJ terlalu lambat menaikkan suku bunga acuannya. Meski demikian, ekspektasi pengetatan kebijakan dalam waktu dekat masih relatif terbatas.
Pasar memperkirakan inflasi utama Jepang pada September meningkat menjadi sekitar 2,1% secara tahunan, sementara inflasi inti di luar makanan segar juga diperkirakan mencapai 2,1%. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ pada akhir Oktober masih sangat rendah, sedangkan peluang kenaikan pada Desember dinilai jauh lebih besar, mencerminkan normalisasi kebijakan yang tetap berlangsung secara bertahap.
Di sisi AS, yield Treasury tetap tinggi menjelang pertemuan Federal Reserve akhir bulan. Pasar memperkirakan peluang sekitar 82,8% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Oktober, sementara kemungkinan kenaikan pada Desember masih berada di sekitar 93,6%. Selama perbedaan kebijakan antara The Fed dan BoJ tetap lebar, USD/JPY berpotensi bertahan dalam kisaran tinggi, dengan area 155–160 menjadi zona utama yang diperhatikan pasar. (srh)