Pasar saham Asia melemah pada perdagangan Selasa (3/11/2026), mengikuti tekanan di Wall Street akibat aksi jual saham teknologi Amerika Serikat (AS). Indeks MSCI Asia Pacific turun 0,5%, sementara Kospi Korea Selatan anjlok lebih dari 3%. Pelemahan ini terjadi setelah saham-saham produsen chip AS mengalami penurunan hingga 12% dalam tiga sesi perdagangan. Indeks Nasdaq 100 juga terkoreksi 10% dari level tertingginya, menandakan pasar memasuki fase koreksi teknikal.
Tekanan terhadap saham teknologi semakin besar akibat kekhawatiran investor terhadap tingginya biaya pengembangan kecerdasan buatan (AI). Sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk Microsoft, Meta, Oracle, dan Alphabet, kembali mencari pendanaan melalui pasar obligasi untuk mendukung investasi mereka. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan yang sebanding dengan besarnya dana yang dikeluarkan untuk pengembangan AI.
Di sisi lain, harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah muncul harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran. Minyak Brent anjlok 7,6% menjadi US$104,77 per barel, setelah kedua negara memberikan sinyal positif terhadap kelanjutan perundingan. Presiden AS Donald Trump menyebut adanya kemajuan diplomasi, sementara pemerintah Iran memperoleh kewenangan lebih besar untuk melakukan negosiasi. Penurunan minyak berpotensi meredakan tekanan inflasi global, tetapi belum mampu mengembalikan minat investor terhadap saham teknologi.
Perhatian pasar kini beralih pada sejumlah data ekonomi AS yang berpotensi menentukan arah pergerakan pasar keuangan. Aktivitas manufaktur AS menunjukkan peningkatan pada Oktober, sementara investor menantikan laporan lowongan pekerjaan JOLTS, klaim pengangguran mingguan, serta data tenaga kerja Non-Farm Payrolls (NFP). Rangkaian data tersebut akan menjadi petunjuk penting untuk menilai kekuatan ekonomi AS sekaligus memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).