Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam lebih dari 7% pada perdagangan Senin (2/11/2026), setelah pembicaraan antara pejabat Iran dan Qatar meningkatkan harapan terhadap kemungkinan berakhirnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Perkembangan diplomatik tersebut memunculkan optimisme bahwa stabilitas pasokan minyak Timur Tengah dapat kembali pulih, sehingga mengurangi kekhawatiran investor terhadap risiko gangguan distribusi energi global.
Kontrak minyak mentah Brent merosot US$8,66 atau 7,63% dan ditutup pada US$104,77 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun US$7,66 atau 7,36% menjadi US$96,46 per barel. Penurunan tersebut mencerminkan berkurangnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang kenaikan harga minyak akibat konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Dalam perdagangan yang berlangsung fluktuatif, Brent sempat menyentuh level terendah harian US$103,28 per barel, sementara WTI turun hingga US$95,15 per barel. Tekanan jual meningkat setelah muncul sinyal bahwa Iran mulai membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi, sehingga pelaku pasar kembali mempertimbangkan prospek pemulihan pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, telah memberikan kewenangan tertentu kepada pemerintah untuk menjalankan pembicaraan perdamaian. Berdasarkan laporan media pemerintah Iran, Pezeshkian menegaskan bahwa Teheran akan berupaya menyelesaikan permasalahan melalui dialog, meskipun belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai ruang lingkup maupun persyaratan perundingan tersebut.
Sementara itu, tim perunding Iran telah mengadakan pembicaraan selama beberapa hari dengan mediator Qatar dalam upaya mencari jalan keluar dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Keterlibatan Qatar sebagai pihak penengah menjadi perhatian pasar karena dinilai dapat membuka kembali komunikasi diplomatik dan mengurangi risiko eskalasi militer yang lebih luas.
Sebelumnya, harga Brent menutup perdagangan Oktober pada level tertinggi dalam enam bulan terakhir, didorong kekhawatiran bahwa konflik Timur Tengah dapat kembali meningkat setelah pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada Selasa (3/11/2026). Ancaman operasi militer lanjutan dan potensi gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah mempertahankan tekanan kenaikan harga energi sepanjang bulan sebelumnya.
Dari Washington, Presiden AS Donald Trump pada Senin menyatakan bahwa Iran menunjukkan keinginan untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang. Trump juga menyampaikan bahwa kesepakatan perdamaian berpotensi tercapai, meskipun belum terdapat kepastian mengenai waktu pelaksanaan maupun rincian persyaratan yang akan disepakati kedua pihak.
Pada Senin malam, mediator Qatar kembali melakukan perjalanan ke Teheran untuk bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Pertemuan tersebut membahas kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, sekaligus melanjutkan upaya diplomasi yang telah berlangsung dalam beberapa hari terakhir. Namun, hasil konkret dari pembicaraan tersebut masih dinantikan oleh pelaku pasar.
Analis Raymond James, Pavel Molchanov, menilai indikasi kemajuan perundingan AS-Iran menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penurunan harga minyak. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa investor perlu tetap berhati-hati karena berbagai upaya diplomasi sebelumnya sempat menimbulkan optimisme tanpa menghasilkan penyelesaian yang berkelanjutan. Dengan kondisi tersebut, pergerakan minyak masih berpotensi mengalami volatilitas tinggi sampai terdapat kemajuan nyata menuju kesepakatan damai dan normalisasi pasokan energi Timur Tengah.
Sumber: Newsmaker.id