Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Jumat (23/10/2026) sesi Asia, dengan minyak Brent menyentuh kisaran US$114 per barel berdasarkan perkembangan harga yang terpantau di pasar. Penguatan ini melanjutkan lonjakan tajam pada perdagangan sebelumnya, ketika Brent meningkat sekitar 4% dan mencatatkan posisi penutupan tertinggi dalam lima bulan terakhir. Kenaikan harga minyak mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi global akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya harga minyak. Serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis dan infrastruktur energi Arab Saudi memperbesar kekhawatiran terhadap keberlanjutan produksi serta distribusi minyak mentah. Situasi keamanan yang memburuk bahkan mendorong perusahaan minyak Saudi Aramco melakukan evakuasi karyawan dari kantor pusatnya di Dhahran. Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan premi risiko geopolitik dalam harga minyak dunia.
Tekanan terhadap pasokan energi semakin meningkat seiring ancaman terhadap aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, dua jalur pelayaran strategis yang berperan penting dalam perdagangan energi internasional. Gangguan terhadap jalur distribusi tersebut berpotensi meningkatkan biaya pengiriman dan memperketat pasokan minyak di pasar global. Selain itu, penurunan produksi minyak Libya akibat gangguan jalur pipa turut menambah kekhawatiran pasar. Kombinasi berbagai risiko tersebut membuat harga Brent tetap mendapatkan dukungan meskipun terdapat peluang aksi ambil untung setelah kenaikan tajam sebelumnya.
Kenaikan harga minyak hingga kisaran US$114 per barel juga meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global, terutama menjelang pertemuan Federal Reserve pada 27–28 Oktober 2026. Mahalnya energi berpotensi meningkatkan biaya produksi dan transportasi sehingga memperlambat penurunan inflasi. Kondisi tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Ke depan, investor akan terus mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, keamanan jalur distribusi minyak, dan respons bank sentral terhadap risiko inflasi energi yang kembali meningkat.
Dampak terhadap Dolar AS
Potensi: USD cenderung menguat, tetapi dengan risiko dua arah.
Kenaikan Brent ke US$114 dapat memperbesar kekhawatiran inflasi AS. Jika pasar memperkirakan The Fed perlu mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, imbal hasil obligasi AS berpotensi meningkat dan mendukung dolar.
Selain itu, konflik Timur Tengah dapat meningkatkan permintaan dolar sebagai aset safe haven. Namun, jika harga energi yang tinggi justru memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi AS, penguatan dolar bisa tertahan.
Selama harga Brent bertahan tinggi dan risiko gangguan pasokan belum mereda, dolar AS berpeluang mendapatkan dukungan dari ekspektasi suku bunga yang lebih ketat dan meningkatnya ketidakpastian global.(CP)