Solid Gold Berjangka – Harga emas dunia masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (22/10), dengan XAU/USD gagal memanfaatkan rebound dari level terendah bulanan dan tetap bergerak di bawah US$4.100 per troy ounce. Tekanan jual masih mendominasi meski dolar AS dan yield Treasury mengalami pelemahan.
Dolar AS tetap tertekan setelah sejumlah pejabat Federal Reserve mengindikasikan tidak ada urgensi untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober. Yield obligasi pemerintah AS juga melanjutkan koreksi dari level tertinggi beberapa tahun, sehingga memberikan sedikit dukungan terhadap emas.
Namun, tekanan inflasi AS yang masih tinggi membuat peluang kenaikan suku bunga pada Desember tetap besar. Pasar memperkirakan probabilitas sekitar 90% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun, sehingga prospek kebijakan moneter ketat masih menjadi beban bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Kekhawatiran inflasi juga diperkuat oleh volatilitas harga minyak dunia. Kenaikan harga energi berpotensi menjaga tekanan harga tetap tinggi dan memperkuat alasan The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat lebih lama, meski bank sentral diperkirakan menahan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih berpotensi membatasi penurunan emas. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Teheran tetap terbuka terhadap diplomasi, tetapi juga siap mempertahankan diri. Sementara itu, laporan mengenai rencana militer AS dan Israel terhadap Iran setelah pemilu sela AS turut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.
Secara teknikal, keberadaan harga di bawah US$4.100 memperkuat risiko pelemahan lanjutan jika tekanan jual tidak mereda. Pasar kini menunggu data klaim pengangguran awal AS, PMI global, serta pertemuan FOMC pekan depan sebagai katalis utama untuk menentukan apakah emas mampu kembali menembus US$4.100 atau justru melanjutkan penurunan. (srh)