Solid Gold Berjangka – Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Jumat (30/10) dan berada di jalur kenaikan bulanan keempat berturut-turut, seiring pasar bersiap menghadapi potensi eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran setelah pemilu sela AS. Brent kontrak Desember naik 1,98% menjadi US$117,15 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,75% ke US$103,79 per barel.
Sepanjang bulan ini, Brent berada di jalur kenaikan sekitar 13%, sementara WTI berpotensi menguat 15%. Lonjakan tersebut mencerminkan meningkatnya premi risiko geopolitik karena investor mulai memperhitungkan kemungkinan dimulainya kembali serangan AS terhadap Iran setelah pemilu sela.
Kekhawatiran terhadap pasokan semakin meningkat setelah sebuah kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan terkena perangkat peledak yang dipasang dari sebuah kapal kecil. Belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut, tetapi peristiwa itu kembali menyoroti kerentanan Selat Hormuz sebagai salah satu jalur utama distribusi minyak dan bahan bakar dari kawasan Teluk.
Upaya diplomasi masih berlangsung setelah mediator Qatar kembali ke Teheran untuk mendorong tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran. Namun, pejabat Iran masih menunjukkan sikap hati-hati terhadap peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat, sehingga pasar tetap memperhitungkan risiko gangguan pasokan yang lebih besar.
Ketegangan juga meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim menyerang sejumlah fasilitas di Arab Saudi, termasuk kilang Ras Tanura, kilang Rabigh, dan fasilitas produksi Abqaiq milik Saudi Aramco. Koalisi yang dipimpin Arab Saudi juga menyatakan telah mencegat sebuah rudal jelajah yang diluncurkan Houthi menuju wilayah barat kerajaan.
Dalam jangka pendek, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi karena pasar mencermati perkembangan pemilu sela AS, pemilu parlemen Israel, serta kelanjutan negosiasi AS–Iran. Selama risiko serangan baru dan ancaman terhadap infrastruktur energi kawasan tetap ada, premi geopolitik berpotensi terus menopang Brent dan WTI pada level tinggi. (srh)