Dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada perdagangan Selasa (20/10/2026), setelah penguatan pada sesi sebelumnya gagal bertahan. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,19% ke level 101,79 dari posisi 101,98 pada perdagangan Senin. Pelemahan ini dipicu menurunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS serta meningkatnya permintaan terhadap aset berdenominasi yen Jepang, yang membuat investor mulai mengurangi posisi beli dolar.
Penguatan yen menjadi perhatian utama pasar setelah lelang obligasi pemerintah Jepang tenor 20 tahun mencatat permintaan tertinggi sepanjang sejarah. Rasio penawaran terhadap jumlah obligasi yang dilelang atau bid-to-cover ratio mencapai 5,84 kali, tertinggi sejak instrumen tersebut diperkenalkan pada 1987. Lonjakan permintaan tersebut mendorong imbal hasil obligasi Jepang tenor 20 tahun turun hingga 6 basis poin menjadi 3,71%. Kondisi ini memperkuat yen terhadap dolar AS, dengan pasangan USD/JPY turun 0,3% mendekati level 158,10, sekaligus mencatat kinerja terbaik yen dalam tiga pekan menjelang evaluasi kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ).
Sementara itu, euro mulai menunjukkan pemulihan setelah tekanan politik dan kerusuhan sosial di Prancis berangsur mereda. Pasangan EUR/USD menguat 0,2% menjadi US$1,1231, setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak Mei 2025. Meski situasi keamanan di sejumlah kota Prancis mulai terkendali, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal negara tersebut masih membayangi pasar. Selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis dan Jerman tenor 10 tahun melebar menjadi 147,3 basis poin, mencerminkan tingginya persepsi risiko investor. Perhatian kini tertuju pada pembahasan anggaran Prancis 2027 di parlemen, terutama upaya pemerintah menekan defisit anggaran yang mencapai 5,4% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Di sisi lain, poundsterling Inggris turut menguat 0,4% terhadap dolar AS hingga mencapai US$1,3350, didukung data ketenagakerjaan Inggris yang menunjukkan pertumbuhan upah dan penciptaan lapangan kerja lebih kuat dari perkiraan. Penguatan sejumlah mata uang utama ini semakin membatasi pergerakan dolar AS di pasar global. Ke depan, investor akan mencermati perkembangan imbal hasil obligasi AS, keputusan kebijakan moneter BOJ, serta stabilitas politik dan fiskal Eropa untuk menentukan arah pergerakan pasar valuta asing. Jika tekanan terhadap imbal hasil obligasi AS terus berlanjut, dolar berpotensi mengalami pelemahan lebih lanjut terhadap mata uang utama dunia.
Kesimpulan
Pelemahan indeks dolar AS ke level 101,79 menunjukkan berkurangnya momentum penguatan greenback, terutama akibat turunnya yield obligasi AS dan meningkatnya permintaan terhadap yen Jepang. Penguatan yen menjadi faktor penting yang menekan dolar, sementara pemulihan euro dan poundsterling memberikan tekanan tambahan.
Apabila DXY terus melemah, kondisi ini berpotensi memberikan sentimen positif bagi harga emas dunia dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Namun, perkembangan kebijakan The Fed, BOJ, serta ketidakpastian politik Eropa tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor.