Indeks dolar AS (DXY) melemah ke sekitar 101,5 pada Selasa (20/10), level terendah dalam hampir tiga pekan. Tekanan terhadap greenback datang dari meningkatnya kekhawatiran terhadap investasi AI, penurunan harga minyak di tengah harapan penyelesaian diplomatik konflik Iran, serta data sektor perumahan AS yang lebih lemah dari perkiraan.
Data terbaru menunjukkan housing starts turun 5,2% pada September, sementara pending home sales jatuh ke rekor terendah. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tingginya suku bunga hipotek masih membebani permintaan perumahan AS dan menambah kekhawatiran terhadap ketahanan ekonomi.
Di sisi kebijakan moneter, pasar semakin yakin Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember masih cukup kuat, sehingga pelemahan dolar belum sepenuhnya lepas dari risiko perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
Sementara itu, euro mulai rebound setelah ketegangan sosial di Prancis sedikit mereda. Yen Jepang juga menguat dan menghentikan pelemahan dua hari beruntun setelah lelang obligasi pemerintah Jepang tenor panjang mencatat permintaan yang sangat kuat.
Analisis Newsmaker: Dolar saat ini menghadapi tekanan dari kombinasi data ekonomi AS yang melemah, meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Oktober, dan kekhawatiran terhadap investasi AI. Jika data ekonomi AS terus menunjukkan perlambatan, ruang penguatan DXY dapat semakin terbatas. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember masih menjadi penopang yang dapat menahan pelemahan dolar lebih dalam.